Sabtu, 04 Februari 2012

cotoh skripsi PAI

KREATIVITAS GURU DALAM MEMBANGKITKAN MINAT BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 2 PENGABUAN DESA SENYERANG KECAMATAN PENGABUAN KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Label:
KREATIVITAS GURU DALAM MEMBANGKITKAN MINAT BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
NEGERI 2 PENGABUAN DESA SENYERANG
KECAMATAN PENGABUAN KABUPATEN
TANJUNG JABUNG BARAT



S K R I P S I



Di Ajukan Untuk Melengkapi Sebagian Peresyaratan
Guna Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.PdI)
Dalam Ilmu Tarbiyah

Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)



O l e h


DEDI EFENDI
NIM : 01.25.244



MAHASISWA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
(STAI) AN – NADWAH KUALA TUNGKAL
KOPERTAIS WILAYAH VII
SUMBAGSEL
2007/2008


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Didalam GBHN disebutkan bahwa Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila, bertujuan untuk "meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yakni manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap tuhan yang maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, dan terampil, serta sehat jasmani dan rohani". (GBHN tahun 1990 BP – 7 pusat, t.th : 105).
Di dalam Undang-undang pendidikan No 20 tahun 2003 tentang sistim Pendidikan Nasional BAB II pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidiakan Nasional bertujuan untuk "berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. (Tim Penyusun, Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2003 : 6)
Dengan landasan pemikiran tersebut, pendidikan disusun sebagai usaha sadar untuk memungkinkan bangsa Indonesia mempertahankan kelangsungan hidupnya dan mengembangkan dirinya secara terus-menerus dari suatu generasi ke generasi berikutnya, pendidikan sebagai alat dan tujuan yang amat penting dalam perjuangan mencapai cita-cita.
Karena pada hakekatnya tujuan pendidikan dicapai melalui proses belajar mengajar, maka administrasi pendidikan merupakan/adalah seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan/ diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh disertai pembinaan secara kontinue untuk mencapai tujuan pendidikan yang di tetapkan, dengan memanfaatkan dan mendaya gunakan segala sumber material dan non material secara efektif dan efesien dalam proses belajar mengajar khususnya, dan dalam pendidikan pada umumnya
Peran serta fungsi guru dalam mencerdaskan anak didik sangat dominan dan menentukan serta mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan dan pertumbuhan kualitas pendidikan. Setiap kreativitas guru harus menjadi suri tauladan bagi anak didiknya, begitu pula sikapnya dalam proses pembelajaran, hal ini akan dapat mempengaruhi terhadap minat belajar siswa, tindakan guru sehari-hari, tingkah laku, tutur kata dan berpakaian menjadi ukuran bagi anak didik.
Dikatakan demikian karena guru berperan sebagai penyalur atau transpormasi dalam penyampaian pengetahuan kepada anak didik dan juga sebagai pendidik, pembimbing dalam arti yang luas untuk mendewasakan anak secara utuh.
Dalam berbagai praktek dan pelaksanaan mengajar khususnya dan para pendidik pada umumnya, guru lebih banyak menyampaikan pengetahuan kepada anak, akan tetapi kurang memperhatikan sikap dan tingkah laku anak, bahkan guru sering bertindak masa bodoh atas prilaku anak didiknya.
Perlu diketahui bahwa keteladanan dalam berbuat, dan bersikap merupakan suatu keharusan bagi seorang guru karena apabila anak terkait dengan keteladanan yang baik, maka besar kemungkinan anak tersebut akan muda diarahkan dan ia akan mampu mengontrol dirinya untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan ajaran yang benar. Sesuai dengan kesucian fitrahnya bahwa setiap insan, berbakti dan mengabdi kepada Allah SWT. Maka potensi tersebut hendaknya disadari dan dipahami oleh setiap guru dan kita semua umumnya, bahwa setiap anak akan bisa diarahkan dan bisa didik menjadi baik. Sekalipun anak tersebut terlahir dari orang tua yang biasa berbuat maksiat.
Bagi seorang guru dalam kreativitas sehari-hari dan cerminan tingkah laku yang kurang baik, akan membawa pengaruh negatif dalam hubungan sosialnya dengan anak didik dalam proses pembelajaran serta krisis bagi kwalitas pendidikan disekolah.
Oleh karena itu, khususnya dalam proses pembelajaran, guru dalam mencapai materi harus memiliki krativitas baik dalam persiapan mengajar, proses pembelajaran, penerapan metode dan penyajian. Karena kretaivitas guru dalam proses pembelajaran mempunyai pengaruh peranan dan fungsinya sangat besar terhadap pertumbuhan semangat belajar anak didik. Guru dituntut harus memiliki pengetahuan untuk menganal anak didiknya sehingga guru lebih mudah dalam menciptakan situasi belajar yang dapat merangsang anak didik untuk secara aktif mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian dan minat belajar besar. A. D. Marimba, (1981 : 38) mengatakan :
“Seorang guru memiliki tugas antara lain : membimbing, mengenal siswa, mengenal kebutuhan dan kemampuannya dan menciptakan situasi pendidikan. Untuk hal yang terakhi ini seorang guru dapat melaksanakan dengan cara menerapkan metode pelajaran yang sesuai dan bervariasi yang mampu menciptakan suasana belajar yang merangsang siswa untuk mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian dan minat belajar yang besar”.


Permasalahan yang penulis temukan adalah proses pembelajaran dimana guru SMP Negeri 2 Pengabuan Desa Senyerang masih menganggap dan memperlakukan siswa seakan-akan kelas homogen. Bahkan belajar masih seragam (unifrom) bagi semua siswa. Kemudian siswa dituntut dan diharapkan untuk belajar dengan waktu dan kecepatan yang sama. Padahal telah diketahui bahwa diantara mereka itu memiliki perbedaan baik kebutuhan, kemampuan, bakat dan minat maupun yang lainnya. Hal inilah yang menyebabkan kurangnya minat dan perhatian siswa untuk aktif mengikuti pelajaran. Didalam situasi dan keadaan belajar demikianlah akan dapat dilihat kreatif atau tidaknya guru SMP Negeri 2 Pengabuan dalam mengolah proses pembelajaran disekolah.
Permasalahan lain yang penulis temukan adalah masih terdapatnya siswa yang malas, mengantuk dan suka minggat (bolos) pada jam pelajaran. Yang memperhatinkan kurangnya minat belajar siswa SMP Negeri 2 Pengabuan, ini menunjukan kurangnya kreativitas guru dalam mencipatakan model dan kondisi belajar yang baik dan nyaman bagi siswa SMP Negeri 2 Pengabuan. Selain itu masih kurangnya upaya guru SMP Negeri 2 Pengabuan dalam membantu kesulitan dan permasalahan siswanya dalam meningkatkan minat belajarnya.
Fakta lain juga mengindikasikan para guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa yang lambat dalam menerima dan mencerna pertanyaan pada saat kegiatan pembelajaran sehingga mereka ini merasa kurang dihargai dalam kelas mereka. Sebaliknya tidak jarang para guru yang tidak mampu menerima ide-ide atau pendapat siswa yang tergolong cepat dalam menerima pelajaran dimana pendapat mereka diluar jangkauan dan wawasan guru yang bersangkutan. Persoalan semacam ini harus dipahami secara cermat oleh segenap pengelola lembaga pendidikan.
Kreativitas guru dalam proses pembelajaran dalam hubungannya dengan minat belajar siswa dalam peneliitian ini akan dilihat dari berbagai faktor antara lain adalah persiapan guru dalam mengajar, dan penerapan metode mengajar serta kendala yang dihadapi.

B. Pokok-Pokok Masalah
Dari latar belakang masalah pemilihan judul seperti dikemukakan diatas, yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian skripsi ini adalah :
1. Bagaimana proses pembelajaran di SMP Negeri 2 Pengabuan?
2. Bagaimana kretivitas guru dalam meningkatkan minat belajar siswa di SMP Negeri 2 Pengabuan?
3. Apa kendala yang dihadapi oleh guru dalam upaya meningkatkan minat belajar siswa dan usaha mengatasinya?

C. Batasan Masalah
Untuk memudahkan dalam penyelesaian penulisan skripsi ini, serta menghindari kesalah pahaman. Maka penulis anggap perlu memberikan batasan masalah.
Adapun yang menjadi objek penelitian ini mengenai kretivitas guru dalam membangkitkan minat siswa dalam mengikuti pelajaran disini penulis mengambil dua orang guru, yaitu guru bidang studi agama Islam dan guru bidang studi Matematika.

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun Tujuan Penelitian penulisan skripsi ini adalah sebagai serikut :
a. Ingin mengetahui bagaimanan proses pembelajaran di SMP Negeri 2 Pengabuan.
b. Ingin mengetahui bagaimana kreativitas guru dalam meningkatkan minat belajar siswa di SMP Negeri 2 Pengabuan.
c. Ingin mengetahui kendala yang dihadapi oleh guru dalam upaya meningkatkan minat belajar siswa dan usaha mengatasinya.
2. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari hasil penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran di SMP Negeri 2 Pengabuan.
b. Untuk mengetahui bagaimana Kreativitas guru dalam meningkatkan minat belajar siswa di SMP Negeri 2 Pengabuan. Serta kendala yang dihadapi oleh guru dalam upaya meningkatkan minat belajar siswa dan usaha mengatasinya.
c. Untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S.1) Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada STAI An-Nadwah Kuala Tungkal.

E. Kerangka Teori

Supaya penelitian ini dapat terarah dan terfokus pada pokok permasalahan yang telah dirumuskan, maka perlu kerangka teori yang dapat dijadikan dasar dalam analisis dan menarik kesimpulan.
Kemampuan seorang guru dalam mengelola proses pembelajaran hendaknya guru dapat menciptakan situasi pembelajaran yang dapat merangsang siswa baik pikiran, perasaan, sehingga dapat membawa dan mengarahkan pikiran dan kreativitasnya terhadap pelajaran yang disajikan. Dengan maksud agar siswa akan terangsang untuk ikut aktif mengikuti pelajaran dengan kesungguhan, semangat dan minat belajar yang besar.
Seorang guru tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajar saja, tetapi guru juga harus memiliki kreativitas dalam mengelola proses pembelajaran, mampu mentransportasikan ilmunya dan memotivasi siswa untuk selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran.
Minat merupakan dasar yang sangat memungkinkan keberhasilan dalam peroses pembelajaran. Minat tidak hadir begitu saja atau dibawa sejak lahir, tetapi minat dapat lahir atau timbul setelah adanya rangsangan.
Suhartini Arikunto, (1983 : 57) dalam bukunya yang berjudul “Serba Serbi Pendidikan” mengatakan bahwa : “... Minat tersebut timbul setelah adanya rangsangan dari luar, bukan dibawa sejak lahir”.
Dalam beberapa teori mengenai kreativitas guru dalam persiapan mengajar dan pengaruhnya terhadap minat belajar siswa dalam belajar, yaitu :
Dalam proses pembelajaran motivasi sangat penting sebagai daya penggerak tingkah laku dan pikiran serta emosi yang berpengaruh secara dinamik, jadi setiap kreativitas dan kesiapan guru dalam mengajar harus diarahkan untuk membangkitkan minat belajar. Minat adalah suatu landasan yang paling memungkinkan demi keberhasilan suatu proses belajar. Jika seseorang guru memiliki rasa ingin belajar ia akan cepat mengerti dan mengingatnya. Belajar akan merupakan siksaan dan tidak akan memberi manfaat jika tidak disertai sipat terbuka bagi bahan-bahan pelajaran.
Proses pembelajaran adalah merupakan suatu rangkaian fase yang mesti ditempuh oleh siswa yang belajar dengan guru yang mengajar dalam upaya mencapai tujuan pendidikan tertentu. Untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu itu diperlukan suatu perencanaan yang harus disusun dan dirumuskan berdasarkan kepada tujuan pendidikan itu sendiri, perbedaan individuan, perkembangan intlektual, perbedaan kebutuhan, bakat dan minat siswa. Untuk itu seorang guru harus memiliki kreativitas agar dapat mengetahui hal tersebut, sehingga ia dapat merumuskan serta merencanakan persiapan mengajar yang sesuai dan tepat dengan tingkat perkembangan siswa.
Kreativitas guru dalam merumuskan dan merencanakan persiapan mengajar secara jelas dan sepesifik akan memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan berhasil / tidaknya proses pembelajaran. Seperti dikutip dari Kamus Besar Indonesia (1998 :529) sebagai berikut : “Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta, daya cipta, perihal berkreasi ; keareatifan.
Pada saat kegiatan belajar mengajar tidak jarang para guru kurang memberikan kesempatan untuk berpartisipasi kepada siswa, akibatnya tidak sedikit siswa sering bolos pada jam pelajaran tengah berlangsung. Sebab mereka merasa kurang dihargai dalam kelas. Seharusnya program belajar mengajar merupakan suatu kontak sosial antara guru dengan siswa dalam rangka mencapai suatu tujuan pendidikan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.
Kreativitas guru dalam kegiatan belajar mengajar hendaknya dapat memperlakukan siswa sebagai subjek didik yang memiliki potensi, bakat dan minat yang perlu ditumbuh kembangkan dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan secara maksimal, bukan sebaliknya memperlakukan siswa sebagai objek didik. Hal itu sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ansori W. Roem, senbagai berikut :
Dalam kenyataan masih banyak kegiatan pembelajaran dilaksanakan tanpa memisahkan materi pelajaran atau membedakan materi pelajaran antara kelas yang satu dengan kelas yang lain, artinya bahan pelajaran masih seragam untuk semua kelas yang tingkatannya sama. Ini terlihat pada SLTP Negeri 2 Pengabuan. Hal ini akan membawa rasa malas belajar dan rasa rendah diri bagi siswa yang lambat dalam menerima pelajaran serat akibat negatifnya.
Oleh karena itu seorang guru harus memiliki kreativitas dalam mengelola proses pembelajaran agar mental siswa tetap setabil dan siswa tidak lari dari pelajaran. Kreativitas guru disini yaitukemampuan yang dimiliki oleh guru dalam mengelola proses pembelajaran dengan memperhatikan dan mengetahui perbedaan dan perkembangan siswa, sehingga guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang sesuai dan tepat dengan tingkat kemampuan siswa. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad SAW. dari Aisyah yang berbunyi :
ﻨﺤﻦﻤﻌﺷﺎﺮﻷﻨﺒﻴﺎﺀﺍﻤﺮﻨﺎﺍﻦﻨﻨﺰﻝﻠﻨﺎﺲﻤﻨﺎﺰﻠﻬﻡﻮﻨﮑﻠﻬﻡﻋﻠﻰﻗﺮﻋﻘﻠﻬﻡ
Artinya : “Kami para Nambi disuruh menempatkan masing-masing orang pada tempatnya dan berbicara dengan mereka menurut tingkat pemikirannya”. (Al-Ghazali, 1983 : 218)

Dengan demikian maka seorang guru perlu menyajikan materi pelajaran yang sesuai dengan tingkat kecerdasannya, sebab materi pelajaran yang sukar akan menjadi siswa tidak dapat atau sukar mamahaminya. Hal seperti itu akan menyebabkan siswa lari dari pelajran itu.
Selanjutnya Al-Ghazali, secara tegas menegaskan : “Kewajiban pertama-tama bagi seoarang juru pendidik ialah mengajarkan kepada anak-anak apa-apa yang mudah dipahaminya, oleh karena itu mata pelajaran yang sukar akan menyebabkan kericuhan mental/akal dan menyebabkan anak-anak lari dari guru... “. (Al-Abrasyi, 1990 : 88)
Menciptakan situasi belajar yang dapat merangsang siswa untuk selalu aktif mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian dan minat belajar yang besar. Hal itu merupakan tantangan bagi seorang guru dalam proses belajar mengajar. Setiap situasi mempunyai unsur-unsur pokok dan guru perlu memiliki kreativitas untuk menghubungkan kesemua unsur belajar tersebut secara dinamis yang dapat beradaptasi dengan situasi dan kondisi belajar.
Jadi guru dalam usahanya menciptakan situasi pendidikan kreatif dalam mengelola proses pembelajaran dengan menghubungkan ketiga unsur dari situasi pendidikan secara dinamis.
Penerapan metode pengajaran dalam suatu bidang studi dapat dilihat dari kreativitas guru dalam menerangkan bahan pelajaran, hubungan intraksinya dengan siswa, memberi dorongan dan rangsangan serta pujian. Memberi ataupun menerima ide-ide dan pertanyaan siswa dalam usaha membangkitkan minat, semangat dan perhatian siswa terhadap pelajaran yang disajikan. Dalam pada itu seorang guru harus lebih bersikap bijaksana didalam mengambil suatu keputusan. Begitu pula terjadi salah pengertian dan salah paham antara guru dengan siswa, harus menjadikan siswa memandang adil hasil keputusan yang diambil guru juga adil dalam memberi nilai hasil belajar.
Selanjutnya pembelajaran akan mengalami kesukaran, apabila rasa ingin tahu siswa tidak dapat tumbuh dengan wajar dalam usaha guru membangkitkan minat belajar siswa. Rasa ingin tahu siswa bisa berupa ide-ide atau pertanyaan siswa, baik tentang materi pelajaran yang tengah disajikan maupun yang telah disajikan oleh guru.
Dari beberapa teori yang dikemukan tentang penerapan metode mengajar diatas dapat ditarik suatu kesimpulan/kerangka teori, bahwa :
Seorang guru yang sangat miskin akan metode pencapaian tujuan, yang tidak menguasai berbagai teknik mengajar atau mungkin tidak mengatahui adanya metode-metode itu, akan berusaha mencapai tujuan dengan jalan yang tidak wajar. Hasil pengajaran yang serupa ini selalu menyedihkan guru, guru akan menderita dan murid pun demikian. Akan timbul masalah disiplin, rendahnya mutu pelajaran. Kurangnya minat anak-anak, dan tidak ada perhatian dan kesungguhan belajar.
Kreativitas guru dalam hubungan intraksi dengan siswa memiliki perang dan fungsi yang sangat penting dalam usaha membangkitkan dan merangsang minat belajar siswa. Sebagai simbol moral guru harus menjadi tokoh idola bagi siswa dalam proses pembelajaran. Tingkah laku, tutur kata, cara berpakaian dan berjalan menjadi ukuran bagi siswa.
Apabila hubungan intraksi antara guru dengan siswa terjalin secara harmonis, maka guru akan lebih mempengaruhi dan membawa pikiran serta perhatian siswa terhadap apa-apa yang guru berikan dalam proses suatu pembelajaran. Hubungan harmonis menggambarkan adanya keakraban, kasih sayang dan rasa aman. Dengan begitu timbul rasa simpatik siswa terhadap guru, yang pada akhirnya menjadikan hubungan tersebut untuk saling berkerjasama antara kedua belah pihak, sehingga hubungan itu produktif dan kreatif.
a. Kreativitas
Sebagaimana diungkapkan oleh James R. Ervan bahwa kreativitas adalah keterampilan untuk menentukan pertalian baru jika melihat subjek dari prespektif baru yang membentuk kombinasi-kombinasi baru dari dua atau lebih konsep yang telah tercetak dalam pikiran. (Fatmawati, 2005 : 33)
Yang dimaksud dengan kreativitas dalam tulisan ini adalah kreativitas guru dalam proses pembelajaran, yaitu suatu kemampuan yang dimiliki seorang guru dalam mengolah proses pembelajaran agama Islam dalam usahanya mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan secara maksimal.
Kemampuan dalam mengolah proses pembelajaran artinya, kemampuan seorang guru mulai dari merumuskan persiapan mengajar, kegiatan pembelajaran, memilih dan menerapkan metode pengajaran yang tepat dan sesuai, mampu berintraksi dengan siswa secara harmonis baik didalam maupun diluar sekolah. Sehingga ia dapat menciptakan situasi belajar dan merangsang siswa untuk selalu aktif terlibat dalam mengikuti pelajaran dengan semangat, perhatian dan minat belajar yang besar.



b. G u r u
Guru ialah seorang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid individual maupun klasikal, baik disekolah maupun diluar sekolah (Ametembun 1973 : 3).
Berdasarkan pendapat diatas guru yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah guru yang mengajarkan pendidikan disekolah, yaitu orang yang memiliki wewenang dan tanggung jawab terhadap pendidikan anak didik disekolah.
c. Proses Pembelajaran
Yang dimaksud dengan proses pembelajaran ialah langkah-langkah yang ditempuh oleh guru – siswa ketika berlangsung kegiatan belajar mengajar. (Harapan. 1980 : 3)
Dasar pendapat diatas, maka yang dimaksud dengan proses pembelajaran agama Islam ialah suatu rangkaian fase / peristiwa yang harus dilalui oleh guru yang memberikan pelajaran dan siswa yang menerima pelajaran. Rangkaian fase / peristiwa tersebut meliputi : persiapan mengajar, kegiatan pembelajaran, pemilihan dan penerapan metode pengajaran dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan secara maksimal.
d. Minat
“Minat ialah kecenderungan jiwa kepada sesuatu karena kita merasa ada kepentingan dengan sesuatu itu”. (Marimba, 1981 : 79)
Dari teori diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan minat belajar ialah kecenderungan jiwa tingkah laku dan pikiran anak didik untuk belajar karena ia merasa tertarik dan merasa senang yang timbul disebabkan adanya rangsangan dari luar dirinya.
e. Belajar
Belajar menurut Hilgard dan Bower, “Belajar menghubungkan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kemetangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang”. (misalnya : kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya). (Purwanto, 1996 : 84).
Dari teori tentang konsep belajar yang telah diuraikan diatas dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan belajar disini ialah suatu proses psikis yang terjadi karena adanya stimulasi dan respon dalam intraksi subjek didik dengan lingkungannya. Proses itu menghasilkan perubahan-perubahan pola tingkah laku baik yang bersifat kongnitif, efektif maupun yang bersifat fisikomotor.
Dari definisi kreativitas yang dijelaskan tadi maka yang menjadi indikator bahwa seseorang dikatakan mempunyai kreativitas adalah :
1. Kefasehan – kecepatan dan kelancaran yang anda gunakan untuk “menggambarkan” gagasan-gagasan baru dan kreatif.
2. Keluwesan – kemampuan anda untuk melihat segala sesuatu dari berbagai sudut, merenungkan segala sesuatu dari titik pandang yang berlawanan, menerima konsep-konsep lama dan menyusunnya kembali dengan cara baru, dan memutar balikkan gagasan yang sudah ada. Keluwesan juga mencakup kemampuan untuk menggunakan semua indera guna menciptakan gagasan baru.
3. Keaslian – inilah jantung semua pemikiran kreatif dan mewakili kemampuan anda menghasilkan gagasan yang unik, luar biasa, dan eksentrik (yaitu jauh dari pusat) meskipun banyak orang menganggap orang-orang eksentrik semacam itu “tidak dapat kendalikan”, justru sebaliknyalah yang benar. Keaslian sering kali timbul dari sejumlah besar energi intelektual yang terarah, energi ini lazimnya memperlihatkan kemampuan berkonsentrasi yang tinggi.
4. Memperluas gagasan, pemikiran, kreatif mampu membangun, mengembangkan, melengkapi, memoles dan umumnya memperdalam serta memperluas gagasan. (Buzan, 2003 : 34)
Selanjutnya hubungan antara guru dengan siswa tidak efektif jika hubungan tersebut menyebabkan siswa ribut saat melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru didalam kegiatan pembelajaran. Suasana kelas menjadi gundah dan siswa saling mengganggu siswa lainnya.
Agar pengaruh yang ditanamkan guru harus memiliki nilai positif bagi siswa, maka guru harus memiliki sikap dan tingkah laku yang baik. Tidak ada minat belajar pada diri siswa dapat disebabkan tidak harmonisnya hubungan social antara guru dengan menyajikan materi pelajaran yang lebih menarik dan tidak membiasakan siswa.
Perasaan malas belajar pada diri siswa disebabkan perasaan takut kepada guru, rasa antipatik, sentimen pribadi dan sebagainya. Rasa malas dapat berupa siswa ribut, membolos dan mengantuk disaat mengikuti pelajaran yang disajikan guru.
Setiap orang memiliki potensi kreatif dalam derajat yang berbeda-beda untuk itu diperlukan kekuatan-kekuatan pendorong baik diluar (lingkungan) maupun dari dalam individu sendiri. Perlu diciptakan kondisi lingkungan yang dapat memupuk daya kreatif individu lingkungan ini mencakup baik lingkungan dalam arti sempit (keluarga, sekolah) maupun dalam arti luas (masyarakat, kebudayaan).












BAB II
PROSEDUR PENELITIAN

A. Lokasi dan Lingkup Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian lapangan bersifat kuantitatif yang diuraikan dalam bahasa sederhana dan mudah dimengerti yang penulis lakukan pada lembaga pendidikan SMP Negeri 2 Pengabuan Desa Senyerang Kecamatan Pengabuan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Sedangkan yang menjadi lingkup penelitian ini ditujukan kepada kreativitas guru dalam membangkitkan minat belajar siswa SMP Negeri 2 Pengabuan Kecamatan Pengabuan Kabupaten Tanjung Jabung Barat .

B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala, nilai test atau peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian. (Sugiyono, 1998 : 141).
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru di SMP Negeri 2 Pengabuan yang berjumlah 12 orang, dimana mereka ini terdiri dari guru bidang studi, guru kelas dan guru BK.

2. Sampel
Sampel adalah “sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. (Arikunto, 1991 : 109). Karena yang diteliti sebagian dari populasi maka penelitian ini disebut penelitian sampel.
Dari pengertian diatas maka penulis mengambil dua orang guru bidang studi untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini, yaitu guru bidang studi pendidikan agama Islam dna guru bidang studi Matematika.

C. Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini ada dua macam yaitu data primer dan data sekunder.
a. Data Primer
Data Primer adalah yang langsung penulis peroleh dari objek penelitian dan merupakan data utama yang dikumpulkan sebagai bahan penulisan karya ilmiah ini, dan data ini merupakan data yang berhubungan langsung dengan topik atau permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini. Data ini diperoleh langsung dari informan tentang kenyataan yang ada dilapangan.
Adapun data primer yang akan dikumpulkan yaitu informasi tentang proses pembelajaran, kreativitas guru di SMP Negeri 2 Pengabuan dalam mengajar, serta kendala dan upaya mengatasinya.
b. Data Skunder
Data Skunder adalah data yang timbul secara tidak langsung dari sumbernya atau data yang diperoleh dalam bentuk tertulis yang didokumentasikan dari objek penelitian bisa diperoleh dari observasi dan dokumentasi. Dikumpulkan guna untuk memperkuat jawaban dan melengkapi data primer dari permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini, meliputi :
1) Letak Geograsif dan Historis SMP Negeri 2 Pengabuan
2) Keadaan guru, karyawan dan siswa sekolah
3) Keadaan perpustakaan sekolah
4) Keadaan sarana dan prasarana
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini ada 3 macam, yaitu orang, dokumentasi/materi dan situasi dan peristiwa. Sumber data melalui orang seperti Kepala Sekolah, Tata Usaha, Majlis Guru, dan para siswa/murid. Sedangkan sumber data yang bersifat materi diperoleh melalui observasi, dokumentasi, brosur-brosur.
D. Metode Pengumpulan Data
Untuk dapat mempelajari dan menelaah data dan fakta secara objektif, penulis mengadakan pendekatan dan menggunakan metode yang sesuai dengan bentuk data yang dibutuhkan seperti :
1. Metode Observasi
“Observasi yaitu pengamatan dan pencatatan dengan sistematis terhadap fenomena-fenomena yang terjadi. (Hadi, 2000 : 192).
Metode ini digunakan untuk mengamati secara langsung kreativitas guru dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam yang dapat dilihat dengan mata kepala dalam ruang, waktu dan keadaan tertentu.
2. Metode Wawancara
“Wawancara adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan para respon (Subagyo, 2004 : 39)
Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang berkenaan dengan informasi yang dibutuhkan yang ditujukan kepada kepala sekolah, guru bidang studi, yang semua ini dianggap sebagai upaya pencapaian hasil yang optimal dari pelaksanaan penelitian ini.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah data mengenai hal-hal yang variable-variabel yang berupa catatan-catatan transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, agenda dan sebagainya (Arikunto, 1991 : 202).
Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang berkenaan dengan :
a. Keadaan guru SMP Negeri 2 Pengabuan
b. Struktur Organisasi Sekolah
c. Keadaan siswa SMP Negeri 2 Pengabuan
d. Keadaan karyawan/karyawati
e. Keadaan sarana dan prasarana
E. Teknik Analisis Data
Setelah semua data yang diperlukan terkumpul dan disusun menurut jenis dan golongannya, data yang bersifat kualitatif akan dianalisa secara kualitatif, dimana penulis akan menghubungkan antara kerangka teori dengan kenyataan yang terdapat dilapangan. Dalam hal ini menggunakan :
1. Analisa Domain
Yaitu analisa yang dilakukan untuk memperoleh gambaran/pengertian yang bersifat umum dan relatif menyeluruh tentang apa yang mencakup dalam fokus atau pokok pembahasan yang sedang diteliti. (Faisal, 1990 : 90)
Analisa Domain ini berkaitan dengan observasi secara umum terhadap apa yang terjadi dilapangan sebagaimana yang dipaparkan dalam latar belakang masalah. Dengan analisa domain ini diambil yang jelas-jelas saja.
2. Analisa Taksonomi
Yaitu analisa yang dipergunakan untuk lebih memperincikan dari pada kategori simbol domain. Pada analisa fokus penelitian yang ditetapkan terbatas pada domain tertentu yang sangat berguna dalam upaya mendiskripsikan atau menjelaskan fenomena yang menjadi sasaran penelitian. (Faisal, 1990 : 90)
Analisa taksonomi merupakan analisa yang bersifat penjajakan umum yang menyeluruh.
3. Analisa Komponensial
Yaitu analisa yang digunakan untuk mengkaji antara elemen-elemen kontras dan domain tertentu. (Faisal, 1990 : 103)
Analisa komponensial ini merupakan analisa yang bersifat mendalam yang berhubungan dengan sumber domain-domain yang diperoleh melalui observasi wawancara.
Melihat pengertian diatas dapat diketahui bahwa analisa komponensial ini adalah sebagai pembanding antara data yang satu dengan yang lain.

F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Untuk menguji keabsahan data yang dikumpulkan, peneliti akan melakukan :
Pertama, teknik trianggulasi antar sumber data, antar teknik pengumpulan data dan antar pengumpul data, yang dalam terakhir ini peneliti akan berupaya mendapatkan rekan atau pembantu dalam penggalian data dari warga di lokasi yang mampu membantu setelah diberi penjelasan. Trianggulasi adalah teknik keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2001: 178).
Kedua, pengecekan kebenaran informasi kepada para informan yang telah ditulis oleh peneliti dalam laporan penelitian (member check). Dalam kesempatan suatu pertemuan yang dihadiri oleh para responden atau informan, peneliti akan membacakan laporan hasil penelitian.
Ketiga, analisis kasus yang tidak sesuai dengan hasil penelitian hingga waktu tertentu dan keempat, perpanjangan waktu penelitian. Cara ini akan ditempuh selain untuk memperoleh bukti yang lebih lengkap juga untuk memeriksa konsistensi tindakan atau ekspresi keagamaan para responden / informan. Data atau informasi yang telah dikumpulkan perlu diuji kebenarannnya (keabsahannya) melalui teknik trianggulasi berikut :
1. Trianggulasi metode : jika informasi atau data yang berasal dari hasil wawancara misalnya, perlu diuji dengan hasil observasi dan seterusnya;
2. Trianggulasi sumber : jika informasi tertentu misalnya, ditanyakan kepada responden yang berbeda atau antara responden dan dokumentasi;
3. Trianggulasi situasi : bagaimana penuturan seorang responden jika dalam keadaan ada orang lain dibandingkan dengan dalam keadaan sendirian.
Dengan ungkapan lain jika melalui pemeriksaan-pemeriksaan tersebut ternyata tidak sama jawaban responden atau ada perbendaan data atau informasi yang ditemukan maka keabsahan data diragukan kebenarannya. Dalam keadaan seperti ini peneliti harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut, sehingga diketahui informasi yang mana yang benar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar